“Cintanya Seteguh Tugu Monas”

Jika ada beribu-ribu kata bahkan milayaran untuk mengenang sosok wanita ini pasti tidaklah cukup untuk dituliskan. Suhanah adalah Ibu tercinta bagi para putra dan putri Bapak Djaetun H.S (Pendiri Yayasan Pendidikan Budi Luhur) yang telah berjuang dalam melahirkan, menjaga, dan mendidik serta sosok yang memberikan penawar duka di kala sedih. Sedikit bait lagu di atas mengingkatkan keteguhan hati beliau yang selalu mengajarkan para putra-putrinya untuk berkeyakinan dan teguh terhadap kata-kata yang diucapkan serta tidak mudah untuk di ubah.

Terkadang beliau mengucapkan kalimat keteguhan hati seakan-akan menyadarkan anak-anaknya, khususnya sang putra harus menjadi ksatria yang kuat lagi tegar dalam menjalani kehidupan, dan juga berperan sebagai pemimpin yang pandai melindungi kaum yang lemah. Ibu selalu mengajarkan kelembutan hati yang sabar untuk selalu bekerja keras dan tak lupa membumi. Di mata putra-putri, Ibu adalah seorang wanita sederhana yang selalu menjaga keluarga dengan sepenuh hati nan tulus.

Ibu Suhanah terlahir dari Kakek bernama Sukamad dan Nenek Yuntimah. Pasangan keluarga ini berasal dari Mandirancan, Kuningan, Jawa Barat. Terdapat satu hal yang membuat putra-putri terkadang bertanya-tanya, mengapa KTP nya tertuliskan kelahiran 27 September 1947 di Tanjung Karang? Jawabannya ialah Ibu Suhanah lahir dalam perjalanan ketika nenek kami sedang hamil tua dan sedang dalam perjalanan kembali ke tempat mereka tinggal dan bekerja yaitu menuju Pendopo, Sumatra Selatan. Dahulu putra-putrinya mengira jika keluarga Ibu berasal dari Sumatra, tapi… terjawab akhirnya mengapa setiap tahun pada saat lebaran mereka disuguhi banyak makanan khas Sumatra Selatan, dimana ada hidangan seperti Empek-Empek, Tekwan, Laksa, Lemang Duriang, dan masih banyak lainnya yang membuat putra-putrinya menjadi rindu akan suasana lebaran bersama wanita tercinta itu.

Ibu Suhanah selalu mengajarkan untuk tampil menarik, tapi juga tidak harus berlebih dengan kata lain berpenampilanlah sederhana serta berada ditempat sesuai dengan kebutuhan yang ada. Selain itu, Ibu juga mengajarkan agar anak-anaknya dapat dan mudah menyesuaikan dengan kehidupan tujuannya, kendatinya mereka tetap aman dan selamat.

Ibu selalu maju untuk melindungi dan menjaga anak-anak yang dikasihinya di kala susah..
Ibu adalah orang yang pandai bergaul dan tidak menjaga jarak dengan orang lain..,
di kala hajatan Ibu selalu berada di dapur, di kala malam menampak Ibu selalu belajar bersama anak, di kala cahaya pagi terbit selalu mempersiapkan segala makanan untuk dibawa anak-anak ke sekolah. Ibu sangatlah ahli dalam memasak, bukan hanya sekedar ahli saja, tetapi juga meracuni indra pengecap dan bathin Saya sehingga susah untuk melepas ingatan akan rasanya sambal tempe, sayur asam, empek-empek, tekwan, dan olahan pindang-pindangan.., yang semua makanan lezat mampu dibuatnya dan membekas.

Ibu selalu memberikan rasa cintah kasih yang tidak membeda-bedakan di antara anak-anaknya. Terpikir jika Pak Kasih Hanggora (putra ke 3 Ibu Suhanah) merasa adalah anak kesayangan Ibu dan entah mengapa kakak adik lainnya pun merasa mereka juga adalah anak kesayangannya.. Akhirnya tersadarlah bahwa Ibu Suhanah tidak ingin sekali membedakan anak yang satu dengan yang lainnya. Ibu telah membagi cintanya dengan adil dan merata untuk putra-putrinya.

Ibu Suhanah bagi kami seperti sosok Wonder Woman jika anak sekarang menyebutnya. Hal itu memang benar adanya, karena Ibu selalu ada ketika anak-anak membutuhkannya. Saat masa kecil, waktu putranya Pak Kasih Hanggoro bermain bersama teman-temannya, dimana terkadang harus dinodai dengan bumbu-bumbu pertengkaran, dengan postur tubuh yang kecil saat itu putra tercintanya Ibu tersebut sering dalam perkelahiannya disusul dengan suara tangisan yang menyumbar dari mulut putranya tersebut, lalu berlari mencari Ibu dengan masih diiringi isakan tangis tersebut..
Suatu hari juga teringat dengan jelas jika Pak Kasih kala masa kecilnya pernah menangis tersedu-sedu di sebelah Ibu Suhanah yang sedang menjahit pakaian. Suasana batin seperti itu sampai hari ini masing terus lekat terngiat dalam pikirannya.., entah mengapa saat itu Pak Kasih menangis, entah baju siapa yang Ibu jahit dan mengapa Ibu hanya melontarkan kata-kata menghibur dengan kalimatnya yang lembut dan tenang.

Ibu adalah perempuan yang tidak pernah tinggal dia dalam membantu perekonomian keluarga. Ibu Suhanah sangat pandai dalam mengelola keungan dan mampu berbisnis, dengan membuka toko, mengelola catering, dan masih banyak sumber perekonomian lain untuk keluarga yang Ibu lakukan.

Bapak Djaetun H.S mempercayai Ibu untuk membangun dan mengembangkan sekolah-sekolah Budi Luhur yang sampai sekarang diteruskan oleh Bu Eine dan Bu Minggo para putrinya.

Begitu banyak pengorbanan dan kebaikan dari sosok Ibu Suhanah kepada keluarganya yang tidak dapat di ukur untuk para putra-putrinya ekspresikan dalam kebahagian yang diterima. Ibu lahir dari keluarga yang Alhamdulillah kebanyakan.., ketika rezeki melimpah.. Ibu selalu berpesan kepada anak-anak untuk selalu berbagi dan memberi kepada kaum yang lemah.. “share and give”

Semoga tempat yang ditujukan sebagai POS SAPA dengan menggunakan nama Ibu Suhanah ini akan terus dapat menginspirasi semangat kamu wanita di lingkungan kampus untuk dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Saya khususnya dan Yayasan Budi Luhur Cakti akan selalu mendukung dan ikut menjaga membesarkan SAPA Suhanah untuk menjadi tempat yang penuh manfaat dan pelayan bagi masyarakat luas…

Semoga SAPA Suhanah yang di prakarsai oleh Ibu Umaimah ini dan team serta pihak yang bekerjasama lainnya, betul-betul akan memberikan kebahagiaan bagi yang berkarya dan menerima karya nya. Semoga dengan ini cita-cita nya tercapai Amin..

Jakarta, 31 Agustus 2021
Penulis,

Bpk. Kasih Hanggoro, MBA